tholearisbudianto.blogspot.com

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi yang lain..


ETIKA REMAJA
DALAM PANDANGAN ISLAM

MAKALAH

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata kuliah
Etika Sosial







Disusun Oleh
ARIS BUDIANTO


Dosen Pengampu
Drs. Wahyu Ari Basuki, M.Si.


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM SUNAN GIRI PONOROGO
2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Taufiq serta Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan salah satu tugas matakuliah Etika Sosial yang berjudul: “Etika Remaja Dalam Pandangan Islam” tepat pada waktunya. Diharapkan setelah membaca makalah ini kita dapat mempelajari dan memahami tentang masalah-masalah pada masa remaja dan dapat mengetahui dampak negatifnya, serta dapat memahami etika remaja dalam kehidupan sehari-hari.
Akhirnya, penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini jauh dari kesempurnaan. Maka saran dan kritik yang membangun selalu kami nantikan demi sempurnanya penyusunan makalah kami selanjutnya.


                                                                       November 2011

                                                                              Penulis







DAFTAR ISI

Halaman Judul ........................................................................................       i
Kata Pengantar .......................................................................................       ii
Daftar Isi .................................................................................................       iii
BAB I PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang ............................................................................       1
  2. Rumusan Masalah .......................................................................       1
  3. Tujuan Pembahasan ....................................................................       2
BAB II PEMBAHASAN
  1. Pengertian Etika dan Remaja  .....................................................       3
  2. Masalah-Masalah Masa Remaja ..................................................       5
  3. Etika Remaja dalam Pandangan Islam........................................       8
BAB III PENUTUP
Kesimpulan .............................................................................................       10
Saran .......................................................................................................       10
Daftar Pustaka ........................................................................................       11

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Masa remaja adalah masa dimana seorang anak akan berubah menjadi dewasa, pada masa ini sering disebut juga masa pubertas yaitu masa peralihan dari masa kanak-kanak menjadi dewasa. Pada masa inilah apa yang dilakukan seseorang dapat sedikit banyak mempengaruhi jalan kehidupannya selanjutnya yaitu masa dewasa. Akhir-akhir ini marak dibahas mengenai kenakalan remaja, banyak masalah yang belum mampu diselesaikan oleh masyarakat luas maupun pemerintah dalam menanggulangi kenakalan remaja yang terjadi di Indonesia sekarang.
Kenakalan remaja menjadi masalah yang sangat serius, bahkan mendapat perhatian dari banyak pihak dan kalangan, mulai dari LSM yang rajin mengadakan seminar kenakalan remaja, sampai dengan aparat pemerintah yang rajin melakukan pemberantasan terhadap tindak-tindak kriminal yang dilakukan remaja.
Masalah remaja yang serius diantaranya masalah pergaulan bebas remaja yang semakin mengkhawatirkan, minuman keras yang merajalela dimana-mana, belum lagi obat-obat terlarang yang beredar meluas dan remaja yang menjadi sasarannya.
Agama Islam dalam hal ini sebenarnya telah memberikan aturan bagi para pemuda agar tidak sampai terjerumus kedalam hal-hal yang merugikan dirinya, keluarganya, dan orang lain. Islam memberikan tuntunan bagi remaja bagaimana sebaiknya menjadi remaja yang berakhlak mulia. Walaupun di zaman sekarang mungkin etika remaja dalam pandangan Islam banyak mengalami hambatan. Remaja dianggap kolot, dianggap tidak gaul, kuno dan sebagainya jika menjalankan agamanya dengan taat. Itulah keadaan remaja kita pada saat ini, siapakah yang harus bertanggung jawab dengan semua ini? Tentu kita semua sebagai pendidik, calon pendidik, tokoh masyarakat, dan seluruh lapisan masyarakat.
Maka dari itu makalah ini kami pandang perlu sebagai pedoman dan sebagai ilmu bagaimana Islam mengatur kehidupan remaja dan mengarahkannya kepada yang lebih baik, demi selamatnya generasi kita, sekarang, besok dan yang akan datang.

B.     Rumusan Masalah
  1. Apa pengertian etika dan remaja?
  2. Apa masalah-masalah yang sering terjadi pada masa remaja?
  3. Bagaimanakah etika remaja dalam pandangan Islam?

C.    Tujuan Pembahasan
  1. Menjelaskan pengertian etika dan remaja
  2. Menyebutkan masalah-masalah yang sering terjadi pada masa remaja.
  3. Mendeskripsikan etika remaja dalam pandangan Islam.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Etika dan Remaja
Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah "Ethos", yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu "Mos" dan dalam bentuk jamaknya "Mores", yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk.
Etika dan moral lebih kurang sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku.  Membahas etika yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan (adat) yang melekat dalam kodrat manusia (In herent in human nature) yang terikat dengan pengertian "baik dan buruk" suatu tingkah laku atau perbuatan manusia.
Pengertian dan definisi etika dari para filsuf atau ahli berbeda dalam pokok perhatiannya antara lain:
1.      Merupakan prinsip-prinsip moral yang termasuk ilmu tentang kebaikan dan sifat dari hak (The principles of morality, including the science of good and the nature of the right).
2.      Pedoman perilaku, yang diakui berkaitan dengan memperhatikan bagian utama dari kegiatan manusia. (The rules of conduct, recognize in respect to a particular class of human actions).
3.      Ilmu watak manusia yang ideal, dan prinsip-prinsip moral sebagai individual. (The science of human character in its ideal state, and moral principles as of an individual)
4.      Merupakan ilmu mengenai suatu kewajiban (The science of duty).
Dalam pandangan Islam etika didefinisikan sebagai akhlak atau adab, yaitu suatu aturan yang bersifat moral yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Hadits. Kita ketahui bersama bahwa Islam banyak mengajarkan tata cara bagaimana seharusnya manusia dapat menjaga diri dari perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).
Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.
Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001).
Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001). Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia dan Olds, 2001).
Berdasarkan tinjauan teori perkembangan, usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif, emosi, sosial dan pencapaian (Fagan, 2006). Sebagian remaja mampu mengatasi transisi ini dengan baik, namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan sosial. Beberapa permasalahan remaja yang muncul biasanya banyak berhubungan dengan karakteristik yang ada pada diri remaja.

B.     Masalah-Masalah yang Sering Terjadi pada Masa Remaja
1.      Permasalahan Fisik dan Kesehatan
Permasalahan akibat perubahan fisik banyak dirasakan oleh remaja awal ketika mereka mengalami pubertas. Pada remaja yang sudah selesai masa pubertasnya (remaja tengah dan akhir) permasalahan fisik yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan/ keprihatinan mereka terhadap keadaan fisik yang dimiliki yang biasanya tidak sesuai dengan fisik ideal yang diinginkan. Mereka juga sering membandingkan fisiknya dengan fisik orang lain ataupun idola-idola mereka. Permasalahan fisik ini sering mengakibatkan mereka kurang percaya diri.
Dalam masalah kesehatan tidak banyak remaja yang mengalami sakit kronis. Problem yang banyak terjadi adalah kurang tidur, gangguan makan, maupun penggunaan obat-obatan terlarang. Beberapa kecelakaan, bahkan kematian pada remaja penyebab terbesar adalah karakteristik mereka yang suka bereksperimentasi dan berskplorasi.
2.      Permasalahan Alkohol dan Obat-Obatan Terlarang
Penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang akhir-akhir ini sudah sangat memprihatinkan. Walaupun usaha untuk menghentikan sudah digalakkan tetapi kasus-kasus penggunaan narkoba ini sepertinya tidak berkurang. Ada kekhasan mengapa remaja menggunakan narkoba/ napza yang kemungkinan alasan mereka menggunakan berbeda dengan alasan yang terjadi pada orang dewasa. Santrock (2003) menemukan beberapa alasan mengapa remaja mengkonsumsi narkoba yaitu karena ingin tahu, untuk meningkatkan rasa percaya diri, solidaritas, adaptasi dengan lingkungan, maupun untuk kompensasi.
a.       Pengaruh sosial dan interpersonal: termasuk kurangnya kehangatan dari orang tua, supervisi, kontrol dan dorongan. Penilaian negatif dari orang tua, ketegangan di rumah, perceraian dan perpisahan orang tua.
b.      Pengaruh budaya dan tata krama: memandang penggunaan alkohol dan obat-obatan sebagai simbol penolakan atas standar konvensional, berorientasi pada tujuan jangka pendek dan kepuasan hedonis, dll.
c.       Pengaruh interpersonal: termasuk kepribadian yang temperamental, agresif, orang yang memiliki lokus kontrol eksternal, rendahnya harga diri, dll.
d.      Permasalahan Seksual
e.       Hubungan Remaja dengan Kedua Orang Tua
f.       Permasalahan Moral, Nilai, dan Agama
Lain halnya dengan pendapat Smith & Anderson (dalam Fagan,2006), menurutnya kebanyakan remaja melakukan perilaku berisiko dianggap sebagai bagian dari proses perkembangan yang normal. Perilaku berisiko yang paling sering dilakukan oleh remaja adalah penggunaan rokok, alkohol dan narkoba (Rey, 2002). Tiga jenis pengaruh yang memungkinkan munculnya penggunaan alkohol dan narkoba pada remaja:
Dengan telah matangnya organ-organ seksual pada remaja maka akan mengakibatkan munculnya dorongan-dorongan seksual. Problem tentang seksual pada remaja adalah berkisar masalah bagaimana mengendalikan dorongan seksual, konflik antara mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan, adanya “ketidaknormalan” yang dialaminya berkaitan dengan organ-organ reproduksinya, pelecehan seksual, homoseksual, kehamilan dan aborsi, dan sebagainya (Santrock, 2003, Hurlock, 1991).
Diantara perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja yang dapat mempengaruhi hubungan orang tua dengan remaja adalah : pubertas, penalaran logis yang berkembang, pemikiran idealis yang meningkat, harapan yang tidak tercapai, perubahan di sekolah, teman sebaya, persahabatan, pacaran, dan pergaulan menuju kebebasan.
Beberapa konflik yang biasa terjadi antara remaja dengan orang tua hanya berkisar masalah kehidupan sehari-hari seperti jam pulang ke rumah, cara berpakaian, merapikan kamar tidur. Konflik-konflik seperti ini jarang menimbulkan dilema utama dibandingkan dengan penggunaan obat-obatan terlarang maupun kenakalan remaja.
Beberapa remaja juga mengeluhkan cara-cara orang tua memperlakukan mereka yang otoriter, atau sikap-sikap orang tua yang terlalu kaku atau tidak memahami kepentingan remaja.
Akhir-akhir ini banyak orang tua maupun pendidik yang merasa khawatir bahwa anak-anak mereka terutama remaja mengalami degradasi moral. Sementara remaja sendiri juga sering dihadapkan pada dilema-dilema moral sehingga remaja merasa bingung terhadap keputusan-keputusan moral yang harus diambilnya. Walaupun di dalam keluarga mereka sudah ditanamkan nilai-nilai, tetapi remaja akan merasa bingung ketika menghadapi kenyataan ternyata nilai-nilai tersebut sangat berbeda dengan nilai-nilai yang dihadapi bersama teman-temannya maupun di lingkungan yang berbeda.
Pengawasan terhadap tingkah laku oleh orang dewasa sudah sulit dilakukan terhadap remaja karena lingkungan remaja sudah sangat luas. Pengasahan terhadap hati nurani sebagai pengendali internal perilaku remaja menjadi sangat penting agar remaja bisa mengendalikan perilakunya sendiri ketika tidak ada orang tua maupun guru dan segera menyadari serta memperbaiki diri ketika dia berbuat salah.
Dari beberapa bukti dan fakta tentang remaja, karakteristik dan permasalahan yang menyertainya, semoga dapat menjadi wacana bagi orang tua untuk lebih memahami karakteristik anak remaja mereka dan perubahan perilaku mereka. Perilaku mereka kini tentunya berbeda dari masa kanak-kanak. Hal ini terkadang yang menjadi stressor tersendiri bagi orang tua. Oleh karenanya, butuh tenaga dan kesabaran ekstra untuk benar-benar mempersiapkan remaja kita kelak menghadapi masa dewasanya.

C.    Etika Remaja dalam Pandangan Islam
Islam adalah agama yang kaffah yaitu sempurna, Islam banyak mengajarkan bagaimana seharusnya remaja dapat ber etika, sehingga tidak sampai terjerumus kepada hal-hal yang bersifat negatif menurut agama dan masyarakat. Islam telah mengatur etika remaja. Perilaku tersebut merupakan batasan-batasan yang dilandasi nilai-nilai agama. Oleh karena itu perilaku tersebut harus diperhatikan, dipelihara, dan dilaksanakan oleh para remaja. Perilaku yang menjadi batasan dalam pergaulan adalah :
1.      Berpakaian Sopan
Islam telah mewajibkan laki-laki dan perempuan untuk menutup aurat demi menjaga kehormatan diri dan kebersihan hati. Aurot merupakan anggota tubuh yang harus ditutupi dan tidak boleh diperlihatkan kepada orang yang bukan mahramnya terutama kepada lawan jenis agar tidak boleh kepada jenis agar tidak membangkitkan nafsu birahi serta menimbulkan fitnah.
2.      Menjauhi hal-hal yang diharamkan misalnya minuman keras, obat-obatan terlarang
Minuman keras dan obat terlarang telah sangat jelas hukumnya bila dikonsumsi, kerugiannya lebih besar dari pada manfaatnya yang mungkin hanya dapat dinikmati sekejap, namun akan mendatangkan kerugian bagi orang yang mengkonsumsinya, mabuk, hilang ingatan, malas dan sebagainya. Salah satu cara yaitu dengan cara tidak sering bergaul dengan orang yang telah mengkonsumsinya, dikhawatirkan jika tidak kuat imannya, maka akan timbul keinginan mencoba minum minuman keras dan mencoba menggunakan obat terlarang tersebut. Namun jika kuat imannya dan sabar hatinya maka diperbolehkan bergaul dengan mereka dengan niat amar ma’ruf nahi munkar untuk membantu mereka lepas dari kecanduan minuman keras dan obat terlarang.
3.      Mempunyai batas-batas dalam pergaulan laki-laki dan perempuan
Pergaulan antara laki-laki dengan perempuan di perbolehkan sampai pada batas tidak membuka peluang terjadinya perbuatan dosa. Islam adalah agama yang menjaga kesucian, pergaulan di dalam islam adalah pergaulan yang dilandasi oleh nilai-nilai kesucian. Dalam pergaulan dengan lawan jenis harus dijaga jarak sehingga tidak ada kesempatan terjadinya kejahatan seksual yang pada gilirannya akan merusak bagi pelaku maupun bagi masyarakat umum.
4.      Mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat
Masa remaja sebaiknya dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan yang positif dan bermanfaat remaja harus membagi waktunya efisien mungkin, dengan cara membagi waktu menjadi 3 bagian yaitu : sepertiga untuk beribadah kepada Allah, sepertiga untuk dirinya dan sepertiga lagi untuk orang lain.
5.      Memahami tata cara pergaulan remaja yang Islami
a.       Berbicara dengan perkataan yang sopan
Islam mengajarkan bahwa bila kita berkata, utamakanlah perkataan yang bermanfaat, dengan suara yang lembut, dengan gaya yang wajar .
b.      Menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda
c.       Mengajak untuk berbuat kebaikan
Orang yang memberi petunjuk kepada teman ke jalan yang benar akan mendapatkan pahala seperti teman yang melakukan kebaikan itu, dan ajakan untuk berbuat kebajikan merupakan suatu bentuk kasih sayang terhadap teman.
d.      Mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya dengan cara mengisi waktu dengan hal-hal yang positif.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Membahas etika yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan yang melekat dalam kodrat manusia yang terikat dengan pengertian "baik dan buruk" suatu tingkah laku atau perbuatan manusia.
Permasalahan yang terjadi pada masa remaja adalah kenakalan remaja yaitu : Minum minuman keras, penggunaan obat terlarang, pergaulan bebas.
Islam adalah agama yang kaffah yaitu sempurna, Islam banyak mengajarkan bagaimana seharusnya remaja dapat ber etika, sehingga tidak sampai terjerumus kepada hal-hal yang bersifat negatif menurut agama dan masyarakat.

B.     Saran
Remaja adalah tonggak kemajuan agama dan bangsa. Peran keluarga dan lingkungan sangatlah menentukan pembentukan karakter remaja itu sendiri. Namun membekali remaja dengan ilmu agama mungkin lebih baik dan dapat menjadi benteng diri dari perbuatan yang negatif yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.
Akhirnya penulis menyadari bahwa masih banyak yang harus disempurnakan dalam makalah ini. Maka dari itu saran dan kritik yang bersifat membangun selalu kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA


Lask, Bryan. Memahami dan mengatasi masalah anak. 1985. Gramedia. Jakarta.

Nadeak, wilson. Memahami anak remaja. 1991. Kanisius. Yogyakarta.

Drs. Mulyadi, Drs. Masan Allrat, Aqidah Akhlaq, Toha Putra, Semarang, 1993.

Arifin, Syamsul. 2010. Perkembangan Masa Remaja. Tersedian di http://www.ipin4u.esmartstudent.com/index.htm. diakses Tanggal 10 Januari 2011.

Memurnikan Aqidah

Bila Cinta Menyapa


‘Cinta bikin orang gila’, begitu kata sebagian orang. Barangkali ada benarnya. Buktinya, banyak kita saksikan para pemuda atau pemudi yang rela melanggar aturan-aturan agama demi mencari keridhaan pacarnya. Alasan mereka, ‘cinta itu membutuhkan pengorbanan’. Kalau berkorban harta atau bahkan nyawa untuk membela agama Allah, tentu tidak kita ingkari. Namun, bagaimana jika yang dikorbankan adalah syariat Islam dan yang dicari bukan keridhaan Ar-Rahman? Semoga tulisan yang ringkas ini bisa menjadi bahan renungan bagi kita bersama, agar cinta yang mengalir di peredaran darah kita tidak berubah menjadi bencana.
Allah ta’ala berfirman,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
“Di antara manusia ada yang mencintai sekutu-sekutu selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah, adapun orang-orang yang beiman lebih dalam cintanya kepada Allah. Seandainya orang-orang yang zhalim itu menyaksikan tatkala mereka melihat adzab (pada hari kiamat) bahwa sesungguhnya seluruh kekuatan adalah milik Allah dan bahwa Allah sangat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al-Baqarah : 165)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan, “Allah menceritakan bahwa mereka (orang musyrik) mencintai pujaan-pujaan mereka/sesembahan tandingan itu sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Maka hal itu menunjukkan bahwa mereka juga mencintai Allah dengan kecintaan yang sangat besar. Akan tetapi hal itu belum bisa memasukkan mereka ke dalam Islam. Lalu bagaimana jadinya orang yang mencintai pujaan (selain Allah) dengan rasa cinta yang lebih besar daripada kecintaan kepada Allah? Lalu apa jadinya orang yang hanya mencintai pujaan tandingan itu dan sama sekali tidak mencintai Allah?” (sebagaimana dinukil dalam Hasyiyah Kitab Tauhid, hal. 7. islamspirit.com).
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan : “Allah ta’ala menyebutkan tentang kondisi orang-orang musyrik ketika hidup di dunia dan ketika berada di akhirat. Mereka itu telah mengangkat sekutu-sekutu bagi Allah yaitu [sesembahan-sesembahan] tandingan. Mereka menyembahnya disamping menyembah Allah. Dan mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Dia itu adalah Allah yang tidak ada sesembahan yang hak kecuali Dia, tidak ada yang sanggup menentang-Nya, tidak ada yang bisa menandingi-Nya dan tiada sekutu bersama-Nya. Di dalam Ash-Shahihain [Sahih Bukhari dan Muslim] dari Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu’anhu-, dia berkata : Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, dosa apakah yang terbesar.” Beliau menjawab : “Yaitu engkau mengangkat selain Allah sebagai sekutu bagi-Nya padahal Dialah yang menciptakanmu.” Sedangkan firman Allah, “adapun orang-orang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah.” Hal itu dikarenakan kecintaan mereka (orang yang beriman) ikhlas untuk Allah dan karena kesempurnaan mereka dalam mengenali-Nya, penghormatan dan tauhid mereka kepada-Nya. Mereka tidak mempersekutukan apapun dengan-Nya. Akan tetapi mereka hanya menyembah-Nya semata, bertawakal kepada-Nya dan mengembalikan segala urusan kepada-Nya…” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, I/262)
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan : “Allah ta’ala mengabarkan bahwasanya barangsiapa yang mencintai sesuatu selain Allah sebagaimana mencintai Allah ta’ala maka dia termasuk kategori orang yang telah menjadikan selain Allah sebagai sekutu. Syirik ini terjadi dalam hal kecintaan bukan dalam hal penciptaan dan rububiyah… Karena sesungguhnya mayoritas penduduk bumi ini telah mengangkat selain Allah sebagai sekutu dalam perkara cinta dan pengagungan.” (dinukil dari Fathul Majid, hal. 320).
Syaikh Hamad bin ‘Atiq rahimahullah menjelaskan, “Orang-orang musyrik itu menyetarakan sesembahan mereka dengan Allah dalam hal kecintaan dan pengagungan. Inilah pemaknaan ayat tersebut sebagaimana dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah…” (Ibthaalu Tandiid, hal. 180).
Syaikhul Islam mengatakan : “Penyetaraan semacam itulah yang disebutkan di dalam firman Allah ta’ala tatkala menceritakan penyesalan mereka di akhirat ketika berada di neraka. Mereka berkata kepada sesembahan-sesembahan dan sekutu-sekutu mereka dalam keadaan mereka sama-sama mendapatkan adzab (yang artinya) : “Demi Allah, dahulu kami di dunia berada dalam kesesatan yang nyata, karena kami mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam.” (QS. Asy-Syu’araa’ : 97-98). Telah dimaklumi bersama, bahwasanya mereka bukan mensejajarkan sesembahan mereka dengan Rabbul ‘alamin dalam hal penciptaan dan rububiyah. Namun mereka hanya mensejejajarkan pujaan-pujaan itu dengan Allah dalam hal cinta dan pengagungan…” (dinukil dari Fathul Majid, hal. 320-321)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan : “Kecintaan orang-orang yang beriman lebih dalam dikarenakan kecintaan tersebut adalah kecintaan yang murni yang tidak terdapat noda syirik di dalamnya. Sehingga kecintaan orang-orang yang beriman menjadi lebih dalam daripada kecintaan mereka (orang-orang kafir) kepada Allah.” (Al-Qaul Al-Mufid, II/4-5).
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa makna ‘orang-orang yang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah’ yaitu apabila dibandingkan dengan kecintaan para pengangkat tandingan itu terhadap sekutu-sekutu mereka. Karena orang-orang yang beriman itu memurnikan cinta untuk Allah, sedangkan mereka mempersekutukan-Nya. Selain itu, mereka juga mencintai sesuatu yang memang layak untuk dicintai, dan kecintaan kepada-Nya merupakan sumber kebaikan, kebahagiaan dan kemenangan hamba. Adapun orang-orang musyrik itu telah mencintai sesuatu yang pada hakikatnya tidak berhak sama sekali untuk dicintai. Dan mencintai tandingan-tandingan itu justru menjadi sumber kebinasaan dan kehancuran hamba serta tercerai-cerainya urusannya.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 80).
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “Sumber terjadinya kesyirikan terhadap Allah adalah syirik dalam perkara cinta. Sebagaimana firman Allah ta’ala, “Dan diantara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan, mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Adapun orang-orang yang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah : 165)…” Beliau menegaskan : “Maksud dari pembicaraan ini adalah bahwasanya hakikat penghambaan tidak akan bisa diraih apabila diiringi dengan kesyirikan kepada Allah dalam urusan cinta. Lain halnya dengan mahabbah lillah. Karena sesungguhnya kecintaan tersebut merupakan salah satu koneskuensi dan tuntutan dari penghambaan kepada Allah. Karena sesungguhnya kecintaan kepada rasul –bahkan harus mendahulukan kecintaan kepadanya daripada kepada diri sendiri, orang tua dan anak-anak- merupakan perkara yang menentukan kesempurnaan iman. Sebab mencintai beliau termasuk bagian dari mencintai Allah. Demikian pula halnya pada kecintaan fillah dan lillah…” (Ad-Daa’ wad-Dawaa’, hal. 212-213)
Buktikan Cintamu!
Dari Anas radhiyallahu’anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai dia menjadikan aku lebih dicintainya daripada anak, orang tua dan seluruh umat manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah berkata : “Maka keimanan tidak menjadi sempurna sampai Rasul lebih dicintainya daripada seluruh makhluk. Kalau demikian halnya yang seharusnya diterapkan dalam kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bagaimanakah lagi dengan kecintaan kepada Allah ta’ala?!!…” (Al-Qaul Al-Mufid, II/6).
Allah ta’ala berfirman,
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي
“Katakanlah : Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku.” (QS. Ali-’Imraan : 31). Syaikhul Islam berkata : “Maka tidaklah seseorang menjadi pecinta Allah hingga dia mau tunduk mengikuti Rasulullah.” (lihat Al-’Ubudiyah)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan : “Pokok dari seluruh amal perbuatan adalah rasa suka (cinta). Karena seorang manusia tidaklah melakukan sesuatu kecuali apa yang disukainya, baik dalam rangka mendapatkan manfaat atau untuk menolak madharat. Maka apabila dia melakukan sesuatu tentulah karena dia menyukainya, mungkin karena dzat sesuatu itu sendiri (sebab internal) seperti halnya makanan atau karena sebab eksternal seperti halnya meminum obat. Ibadah kepada Allah itu dibangun di atas pondasi kecintaan. Bahkan rasa cinta itulah hakikat dari ibadah. Sebab apabila anda beribadah tanpa memiliki rasa cinta maka ibadah yang anda perbuat akan terasa hambar dan tidak ada ruhnya. Karena sesungguhnya apabila di dalam hati seorang insan masih terdapat rasa cinta kepada Allah dan keinginan untuk menikmati surga-Nya maka tentunya dia akan menempuh jalan untuk menggapainya…” (Al-Qaul Al-Mufid, II/3)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara, barangsiapa yang pada dirinya terdapat ketiganya niscaya akan merasakan manisnya iman; [1] Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, [2] dia mencintai orang lain tidak lain disebabkan cinta karena Allah, [3] dan dia tidak suka kembali kepada kekafiran sebagaimana dia tidak suka untuk dilemparkan ke dalam kobaran api.” (HR. Bukhari [15,20,5581,6428] dan Muslim [60,61] dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Tali keimanan yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya [92] dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu disahihkan Al-Albani dalam takhrij Kitabul Iman karya Ibnu Taimiyah).
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan, “Tanda kebenaran cinta itu ialah apabila seseorang dihadapkan kepadanya dua perkara, salah satunya dicintai Allah dan Rasul-Nya sementara di dalam dirinya tidak ada keinginan (nafsu) untuk itu, sedangkan perkara yang lain adalah sesuatu yang disukai dan diinginkan oleh nafsunya akan tetapi hal itu akan menghilangkan atau mengurangi perkara yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Apabila ternyata dia lebih memprioritaskan apa yang diinginkan oleh nafsunya di atas apa yang dicintai Allah ini berarti dia telah berbuat zalim dan meninggalkan kewajiban yang seharusnya dilakukannya” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 332).
Maka perhatikanlah wahai saudaraku kecenderungan dan gerak-gerik hatimu, jangan-jangan selama ini engkau telah menobatkan sesembahan selain Allah jauh di dalam lubuk hatimu; entah itu harta, kedudukan, jabatan, benda, atau sesosok manusia. Engkau mengharapkannya, menggantungkan cita-citamu kepadanya, takut kehilangan dirinya sebagaimana rasa takutmu kehilangan bantuan dari Allah ta’ala, sehingga keridhaannya pun menjadi tujuan segala perbuatan dan tingkah lakumu. Halal dan haram tidak lagi kau pedulikan, aturan Allah pun kau lupakan. Aduhai, betapa malang orang-orang yang telah menjadikan makhluk yang lemah dan tak berdaya sebagai tumpuan harapan hidupnya. Sungguh benar Ibnul Qayyim rahimahullah yang mengatakan, “Sesungguhnya mayoritas penduduk bumi ini telah mengangkat selain Allah sebagai sekutu dalam perkara cinta dan pengagungan.” (dinukil dari Fathul Majid, hal. 320).
Semoga Allah menyelamatkan hati kita dari tipu daya Iblis dan bala tentaranya, dan semoga Allah meneguhkan hati kita untuk menjunjung tinggi kecintaan kepada-Nya di atas segala-galanya. Sebab tidak ada lagi yang lebih melegakan hati dan perasaan kita selain tatkala Allah ta’ala telah menetapkan cinta-Nya untuk kita, sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengabulkan doa. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi-Nya, segala puji bagi Allah Rabb penguasa seluruh alam semesta.
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

Membangun rumah tangga

Indahnya Rumah Tangga di Bawah Naungan Manhaj Nubuwwah

January 11, 2010. Dikirim JO admin dalam Keluarga, Nikah | 25 komentar
63
Oleh Ust. Abu Ahmad bin Syamsyuddin
Rumah Tangga Sebuah Amanah
Kewajiban paling utama, tanggung jawab paling besar, dan amanah paling berat adalah pendidikan terhadap keluarga dan bimbingan untuk rumah tangga, berawal dari diri sendiri kemudian istri, anak-anak , dan kerabatnya. Inilah yang dimaksud firman Alloh:
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارً۬ا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡہَا مَلَـٰٓٮِٕكَةٌ غِلَاظٌ۬ شِدَادٌ۬ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ (٦)
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api naar yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. 66:6)
Pendidikan keluarga bukan sekedar kegiatan sambilan, pemikiran sedeharna, atau upaya ala kadarnya. Namun pendidikan keluarga merupakan kebutuhan asasi dan masalah yang sangat urgen serta memiliki konsekuensi jauh ke depan dalam menentukan masa depan rumah tangga. Seorang muslim harus bertanggung jawab atas segala kekurangan dan kesesatan yang terjadi di tengah keluarganya. Dari Ibnu Umar Rodhiyalloohu ‘Anhuma berkata: aku mendengar Rosulullooh Shololloohu ‘alaihi wassallam bersabda:
“Kamu sekalian adalah pemimpin, dan akan diminta tanggung jawab atas kepimpinannya, seorang imam adalah pemimpin, dan akan diminta tanggung jawab atas kepemimpinannya dan seorang laki-laki adalah pemimpin dan akan diminta tanggung jawab atas atas kepemimpinannya, dan wanita adalah penanggung jawab terhadap rumah suaminya dan akan diminta tanggung jawabnya, serta pembantu penanggung jawab atas harta benda majikannya dan akan diminta tanggung jawabnya”. (Shohih, diriwayatkan oleh Bukhori dalam Shohih-nya: 893, 2409, 2554, 2558, 2571, 5188, dan 7138. Muslim dalam Shohih-nya: 4701, dan Tirmidzi dalam Sunan-nya: 1705)
Keluarga yang baik merupakan nikmat yang paling agung dan karunia yang palingberharga dan tidak ada yang mampu menghargai dan mengenali nilainya kecuali orang yang telah memiliki keluarga hancur dan rumah tangga berantakan sehingga kehidupan laksana terkurung oleh hawa neraka, dan hari-harinya hampir diwarnai perih dan pilu karena keluarga berantakan.
Bekal Membina Rumah Tangga
Ketahuilah bahwa berbagai macam problem kehidupan dalam rumah tangga sering timbul akibat kebodohan terutama terhadap ilmu agama. Dan sebagai obatnya adalah belajar, sebagaimana sabda Nabi Shololloohu ‘alaihi wassallam kepada para sahabat Rodhiyalloohu ‘Anhuma:
“Mengapa mereka tidak bertanya jika tidah tahu? Sesungguhnya obat kebodohan adalah bertanya”. (Hasan, diriwayatkan Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya: 337 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya:572. Dan dihasankan syaikh al-Albani dalam Shohih Sunan Abu Dawud: 337)
Kedunguan hati dari ilmu dan kebisuan lisan dari berbicara dinyatakan sebagai penyakit. Dan obatnya adalah bertanya kepada ulama, sehingga meraih ilmu yang bermanfaat, sebab ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang terpancar dari lentera Al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman  para sahabat dan tabi’in , termasuk perkara yang terkait dengan ma’rifat kepada Alloh, hukum halal-haram, zuhud, kebersihan hati dan akhlaq mulia, serta mengatur kehidupan rumah tangga.
Ilmu yang bermanfaat berfungsi sebagai pemusnah secara tuntas dua penyakit rohani yang paling berbahaya dan menjadi biang penyakit hati yaitu syubhat dan syahwat. Maka sebagai seorang pendidik, sebelum membina keluarganya, harus membekali dirinya dengan ilmu agama yang cukup. Sehingga dengan bekal ilmu agama yang bermanfaat, semua urusan rumah tangga menjadi mudah dan berdakwah di tengah keluarga menjadi lancar. Apalagi bila ilmu telah meresap ke dalam hati maka akan melenyapkan penyakit syubhat dan syahwat, mencabut kedua penyakit itu sampai ke akar-akarnya. Ibaratnya orang yang sedang minum obat, segala macam kuman akan hancur dan musnah, sementara obat yang paling manjur adalah obat yang cepat meresap ke dalam tubuh dan tidak membuat kuman kebal, tetapi untuk memusnahkan.
Akhlaq Seorang Pendidik
Seorang pembina rumah tangga harus berilmu, berperangai lemah lembut, bersabar dalam mendidik, sehingga akan memberikan kesan yang baik pada keluarga, seperti firman Alloh Subhannahu Ta’ala:
فَبِمَا رَحۡمَةٍ۬ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡ‌ۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَ‌ۖ فَٱعۡفُ عَنۡہُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِى ٱلۡأَمۡرِ‌ۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ (١٥٩)
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (QS. Ali Imran [3]: 159)
Syaikhul islam Ibnu taimiyah Rohimahulloh berkata:
“Hendaknya tidak menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran kecuali setelah memiliki tiga bekal: berilmu sebelum menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran, berperangai lemah lembut ketika menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran, serta bersabar setelah menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran.” (al-Amr bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar, Ibnu Taimiyah, hal. 57)
Hendaknya seorang pendidik paling terdepan dalam memberi contoh karena sangat berat ancaman orang yang tidak konsekuen terhadap ajakannya, sebagaimana sabda Nabi Shololloohu ‘alaihi wassallam:
“Nanti pada hari kiamat ada seseorang didatangkan lalu dilemparkan ke dalam neraka, maka ususnya keluar. Lalu ia berputar-putar di sekitar penggilingan. Kemudian penghuni neraka mengerumuninya dan bertanya, ‘Hai Fulan, ada apa denganmu? Bukankah kamu yang menyeru kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran?’ Ia menjawab, ‘Ya, aku telah menyeru kepada kebaikan tetapi aku sendiri tidak mengerjakannya dan aku melarang orang dari kemungkaran tetapi aku sendiri mengerjakannya.” (Shohih, diriwayatkan Imam Bukhori dalam Shohih-nya: 3267, 7098. Dan Imam Muslim dalam shohih-nya: 7408)
Hadits shohih di atas memberi petunjuk bahwa orang yang mengetahui kebaikan dan kemungakaran lalu melanggarnya lebih berat siksaannya daripada orang yang tidak mengetahuinya karena ia seperti orang yang menghina larangan Alloh dan meremehkan syari’at-Nya, sehingga ia termasuk ahli ilmu yang tidak bermanfaat ilmunya.
Wahai saudaraku, para suami…
Wahai sang suami, sungguh engkaulah pemegang kendali rumah tangga, ikatan pernikahan dan perjanjian yang berat, karena Alloh berfirman:
….. وَّاَخَذۡنَ مِنۡكُمۡ مِّيۡثَاقًا غَلِيۡظًا
Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat. (QS. 4:21)
Anda telah memikul tanggung jawab, memegang amanat dan beban rumah tangga. Hubungan penikahan merupakan kemuliaan bagi laki-laki dan perempuan, maka secara fitroh dan naluri masing-masing memiliki tugas hidup agar kehidupan rumah tangga berjalan normal dan lurus seperti firman Alloh:
ٱلرِّجَالُ قَوَّٲمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ۬ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٲلِهِمۡ‌ۚ فَٱلصَّـٰلِحَـٰتُ قَـٰنِتَـٰتٌ حَـٰفِظَـٰتٌ۬ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ‌ۚ وَٱلَّـٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِى ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّ‌ۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَڪُمۡ فَلَا تَبۡغُواْ عَلَيۡہِنَّ سَبِيلاً‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيًّ۬ا ڪَبِيرً۬ا (٣٤)
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka [laki-laki] atas sebahagian yang lain [wanita], dan karena mereka [laki-laki] telah menafkahkan sebagian dari harta  mereka. (QS. An-Nisa’ [4]: 34)
Upayakanlah kendali rumah tangga, terutama isterimu, tetap berada di tanganmu. Jangan bersikap lemah dan tidak berwibawa serta tidak berdaya di hadapan tuntutan dan tekanan isterimu, akhirnya ia menghinamu, memperbudakmu, dan merendahkanmu sehingga kehidupan rumah tanggamu berantakan bagaikan neraka. Begitu pula, jangan engkau menghinanya dan menzholiminya, serta menganggapnya seperti barang tak berguna, sebab sikap semena-mena terhadap orang yang lemah seperti isterimu menunjukkan kerdilnya sebuah kepribadian. Terimalah kebaikan yang telah diberikan kepadamu dengan senang hati dan bersabarlah atas berbagai kekurangannya, serta jangan mengangan-angankan kesempurnaan darinya karena dia diciptakan oleh Alloh dari tulang rusuk yang bengkok sebagaimana sabda Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam:
((إِنَّ الْمَرْأَةََ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ, لَنْ تَسْتَقِيْمَ لَكَ عَلَى طَرِيْقَةٍ, فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اِسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيْهَا عِوَجٌ, وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلاَقُهَا))
“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, ia tidak bisa lurus bersamamu di atas satu jalan. Jika kamu menikmatinya maka kamu menikmatinya dalam kondisi bengkok, namun bila anda ingin  meluruskannya, maka boleh jadi patah dan patahnya adalah talak.” (Shohih, diriwayatkan Imam Muslim dalam Shohih-nya: 3631)

Wahai saudaraku, para isteri…
Setiap kesalahan yang dilakukan seorang isteri, perasaan mengikuti hawa nafsu, sikap terlalu cemburu, atau was-was hanya merupakan bisikan setan dan bersumber dari lemahnya iman kepada Alloh, sehingga rumah tangga berubah meikan bagnjadi berantakan laksana neraka dan rumah tangga menjadi porak-poranda bagaikan bangunan disambar halilintar; akibatnya, semua pihak menyesali pernikahan tersebut. Atau boleh jadi karena kesalahan isteri menjadi penyebab talak (perceraian), kemudian jiwa menjadi goncang dan ditimpa kegelisahan yang sangat berat.
Betapa indahnya bila anda meluruskan hati, ahlak, dan tabiat ketika bergaul dengan suami dan kerabat suami anda. Betapa eloknya bila anda selalu menggunakan akal sehat dan kesabaran dalam setiap menghadapi urusan rumah tangga. Betapa mulianya ketika seorang isteri mampu menjadi pendamping setia bagi suami, dan betapa agung kedudukannya di hati sang suami bahkan ia mampu memikat perasaan suami ketika sang isteri berkata: “Aku mendengar dan mentaati”.
Semoga saudariku muslimah mendapa taufiq dan hidayah dengan etika Islam, mau menyempurnakan akal pikiran dengan ilmu dan ma’rifah, dan menyembuhkan hatinya dengan keimanan kepada Alloh, sehingga kehidupan penuh dengan suasana bahagia dan hidup bersama sang suami penuh dengan ketenangan dan ketentraman serta kegembiraan.
Wahai para isteri, tunaikanlah kewajibanmu terhadap suamimu, niscaya engkau akan mendapat kasih sayang dan cintanya!.
Kewajiban Seorang Suami
Kewajiban sebagai seorang suami banyak sekali namun yang terpenting antara lain:
1.  Kewajiban materi meliputi pemberian nafkah, kebutuhan pakaian, dan kebutuhan pendidikan keluarga serta kebutuhan tempat tinggal
2.  Tidak boleh memberatkan isteri dengan mengajukan berbagai tuntutan kebutuhan di luar kemampuannya, dan tidak boleh membuat suasana kacau karena permasalahan sepele, sebagaimana yang telah diwasiatkan Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam:
“Ingatlah dan berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan, karena mereka berada disisimu bagaikan pelayan, dan kalian tidak bisa memiliki lebih dari itu kecuali mereka telah melakukan perbuatan keji yang jelas.”(Shohih, diriwayatkan Tirmidzi dalam Sunan-nya: 1163 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya: 1851)
3.  Kewajiban non materi seorang suami meliputi menggembirakan isteri dan bersikap lemah lembut dalam bertutur kata. Sang suami harus bermusyawarah dan mengambil pendapat sang isteri dalam rangka menunaikan kebaikan. Begitu juga, sang suami harus berterima kasih atas jerih payah isterinya, dan tidak boleh mendiamkan di atas tiga hari karena urusan keduniaan.
4.  Hendaknya seorang suami memberi kesempatan bagi isterinya untuk beramal sholih, bersedekah dengan hartanya, memberi hadiah, menyambut tamu dari keluarga dan kerabatnya, serta setiap orang yang mempunyai hak atasnya.
5.  Hendaknya mengambil waktu yang cukup untuk tinggal di rumah dan berusaha semaksimal mungkin menghindari keluar rumah tanpa tujuan dan sering berpergian, sering keluar rumah untuk bergadang tanpa manfaat, karena yang demikian itu bisa membawa kehancuran.
6.  Hendaknya sang suami tidak melarang isterinya berkunjung kepada keluarga dan kerabatnya, asal tidak berlebihan.
7.  Wanita dalah mahluk yang lemah, maka wajib bagi laki-laki memberi perhatian cukup, melarangnya keluar ke pasar dan lainnya seorang diri, dan harus menjauhkannya dari tempat yang ikhtilath (bercampur) dan kholwah (berduaan/menyepi) dengan laki-laki lain. Begitu juga seorang suami harus menjauhkan sasuatu yang merusak aqidah dan akhlaq keluarganya, dan menyingkirkan segala sarana maksiat yang menghancurkan kehormatan, seperti alat musik.
8.  Seorang suami harus mengajarkan kepada isterinya ilmu agama dan mendidiknya di atas kebaikan, serta menyiapkan segala kebutuhannya dalam rangka meraih ilmu dan istiqomah dalam beragama sesuai dengan ajaran Alloh
Kewajiban Seorang Isteri
Di antara Kewajiban sebagai Seorang Isteri yang paling utama dan prinsip, antara lain:
1. Mentaati dan mematuhi perintah suami selagi tidak menganjurkan maksiat kepada Alloh, karena tidak ada ketaatan kepada mahluk bila menganjurkan kepada maksiat dan pelanggaran kepada Alloh, seperti sabda Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam:
“Tidak ada ketaatan bagi orang yang bermaksiat kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala”. (Shahih. Diriwayatkan Muslim dalam Shahih-nya: 4840, at-Tirmidzi dalam Sunan-nya: 1707 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya: 2865 dengan lafazh Ibnu Majah serta dishahihkan Syaikh al-Albani.)
2.  Dalam bidang materi, seorang isteri harus memberikan pelayanan fisik, baik yang berkaitan dengan kebutuhan pribadi suami atau rumah tangganya, sehingga ibadah nafilah (sunnah) menjadi gugur demi menunaikan tugas tersebut.
Dari Abu Hurairoh sesungguhnya Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam: bersabda:
“Tidak boleh bagi seorang isteri berpuasa (sunnat) sementara suami ada di rumah kecuali atas izinnya (suami), tidak boleh ia mengizinkan orang lain masuk rumahnya kecuali atas izinnya (suami), dan setiap harta suami yang diinfaqkan sang isteri tanpa seizinnya, maka sang suami mendapatkan pahala separuh baginya.” (Shohih, diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahih-nya: 2066 dan 5360, Imam Muslim dalam Shahih-nya: 2367 dan Abu Dawud dalam Sunan-nya: 1687, 2458).
3.  Dalam bidang rohani, seorang isteri harus menjaga perasaan suami dan menciptakan suasana tenang dan kondusif dalam rumah tangga serta membantu meringankan beban dan penderitaan yang menimpa suaminya.
4.  Dalam bidang kesejahteraan, seorang isteri harus mengingatkan suami tentang kebaikan, membantu dalam kebajikan dan ketaatan, membantu dalam bidang sosial, menyantuni fakir miskin dan membantu orang-orang yang lemah untuk memenuhi kebutuhan mereka.
5.  Dalam bidang pendidikan, seorang isteri harus membantu suami dengan jiwa raga dan menerima segala nasehat dan arahannya. Begitu juga dia harus membantunya dalam mendidik dan meluruskan adab anak-anak serta menghindarkan sikap antipati dan masa bodoh terhadap masa depan pendidikan anak-anak.
6. Hendaklah seorang isteri tidak mengajukan tuntutan nafkah atau lainnya yang memberatkan suami atau mempersulit suami.
7.  Tidak berkhianat dalam dirinya, harta benda suami dan rahasia-rahasianya.
Balasan Bagi Rumah Tangga yang Berhasil
Tiada amal sholih yang dianggap sia-sia oleh agama. Setiap kebaikan sekecil apapun pasti mendapat balasan. Setiap benih kebaikan yang disemai di ladang subur, pada musim panen pasti akan memetik hasilnya, maka suami dan isteri yang telah membina rumah tangga yang baik dan mengerahkan berbagai macam pengorbanan untuk mendidik keluarga. Alloh akan memberi balasan yang besar. Cukuplah balasan nikmat baginya berupa sanjungan, pujian, dan pahala yang besar setelah wafatnya, seperti yang telah ditegaskan sebuah hadits dari Abu Hurairoh Rodhiyalloohu ‘anhu ia berkata bahwa Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam bersabda:
“Jika manusia meninggal maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara,: shodaqoh jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendo’akannya.” (HR. Bukhori 7/247 no.6514, dan Muslim 3/1016 no.1631)
Balasan yang lebih besar lagi, ia dikumpulkan di surga bersama para kekasih dan kerabatnya dalam satu tempat tinggal di surga, sebagai karunia dan balasan yang baik dari Alloh, seperti firman Allohu ta’ala:
وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡہُمۡ ذُرِّيَّتُہُم بِإِيمَـٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِہِمۡ ذُرِّيَّتَہُمۡ وَمَآ أَلَتۡنَـٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَىۡءٍ۬‌ۚ كُلُّ ٱمۡرِىِٕۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ۬ (٢١)
Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.Tiap-tiap manusia terikat dengan apayang dikerjakannya. (QS. 52:21)

Pembinaan rumah tangga secara baik, mampu mengangkat martabat, memperbaiki nasib rezeki, mengukir prestasi, memelihara moral generasi, dan menanggulangi dekadensi sehingga membuat hati tenang dan jiwa lapang. Maka pembinaan harus berbasis penumbuhan kesadaran, keimanan, ketaqwaan dan pengendalian diri, serta mampu membentuk suasana damai dan mesra sehingga perasaan kasih sayang tumbuh subur. Allohu musta’an
Diketik ulang oleh Ummu Tsaqiif al-Atsariyyah dari majalah Mawaddah Edisi 1 Tahun


MENTAL BUILDING
Star Principle & Angel Principle

ESSAY

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Matakuliah Profil Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Agama Islam.
Semester II


Disusun oleh
1.            KHUSNUL HUDA
2.            ARIS BUDIANTO
3.            UMMU MALIA HAYATI
4.            ELVI NURHIDAYATI

Dosen Pengampu
MURDIANTO, S.Pd.I, M.Si


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM SUNAN GIRI PONOROGO
2010
Mental Building
(Membangun Mental)

Abstrak
Krisis multidimensi saat ini sangatlah memprihatinkan, dan jika dirunut ke belakang bermuara dari pola pembangunan SDM saat ini yang terlalu mengedepankan IQ (kecerdasan intelektual) dan materialisme, tetapi mengabaikan EQ (kecerdasan emosi) terlebih lagi SQ (kecerdasan spiritual). Untuk mengatasi masalah yang kompleks ini diperlukan suatu metode pembangunan SQ yang tetap berlandaskan kepada nilai-nilai mulia Rukun Iman, Rukun Islam dan Ikhsan, sehingga akan mengoptimalkan EQ dan SQ secara terpadu (ESQ). Mental building merupakan bagian dari salah satu cara untuk mendapatkan kecerdasan emosi dan spiritual atau Emotional Spiritual Quotient (ESQ). Mental building adalah pembangunan mental melalui tahapan-tahapan rukun iman yang mana tujuan hasil dari mental building adalah pribadi yang memiliki prinsip hidup yang kokoh dan mulia.

Pendahuluan
Pandangan tentang kesehatan mental
Istilah kesehatan mental diambil dari konsep mental hygiene. Kata mental diambil dari bahasa Yunani, pengertiannya sama dengan psyche dalam bahasa latin yang artinya psikis, jiwa atau kejiwaan. Jadi istilah hygiene dimaknakan sebgai kesehatan mental atau kesehatan jiwa.
Dalam banyak literatur, istilah mental hygiene bukanlah satu-satunya istilah yang digunakan untuk menyebut kesehatan mental. Istilah lain yang digunakan untuk maksud yang sama adalah psikological medichine, nervous health, atau mental health. Namun istilah-istilah itu memiliki maksud yang sama, meskipun memiliki kandungan makna yang berbeda.
Moeljono Notosoedirjo, Latipun (2005 : 23) mengatakan diantara berbagai istilah tersebut yang dipandang memilki makna yang tepat untuk menyebutkan kesehatan mental adalah mental hygiene dibandingkan penggunaan istilah mental health. Hal ini mental health artinya keadaan jiwa yang sehat yang mengandung pengertian yang statis. Sedangkan mental hygiene bermakna kesahatan mental dan lebih dinamis karena menunjukkan peningkatan usaha mental.
Moeljono Notosoedirjo, Latipun (2005 : 201) mengatakan pada dasarnya manusia terdiri dari dua sub sistim yaitu psikis (jiwa atau mental) dan fisik (badan). kedua sub sistim yang menyatu pada manusia ini tidak dapat dipisahkahn satu sama lain. Psikis merupakan bagian  dari manusia yang bersifat non mental, yang hanya diketahui dari gejala gejalanya antara lain: dorongan (drive), motivasi (motivation), kemauan (willness), kognitif (pikiran), kepribadian, dan perasaan. Sedangkan fisik  mudah diketahui dan diamati.
Manusia diciptakan oleh Allah SWT dibekali dengan kemampuan yang lebih dibandingkan dengan mahkluk lainnya. Kita adalah merupakan mahkluk yang paling sempuma karena kita banyak memiliki kemampuan untuk bertahan hidup lebih baik dibandingkan dengan mahkluk lainnya. Dalam penciptaan manusia, Allah SWT telah memberikan kelebihan untuk kita tidak sekedar mengandalkan instink semata, kita dibekali akal atau ilmu dan agama sehingga dengan bekal tersebut dapatlah diraih sukses dalam hidup, baik di dunia dan di akhirat.
Kecerdasan dan kemampuan manusia dalam mengembangkan kecerdasan otaknya. sehingga dengan itu dia mampu menguasai ilmu pengetahuan yang mengantarkan manusia untuk menggarap alam semesta ini vang disebut IQ. Kemampuan IQ yang tajam mengantarkan manusia menembus angkasa, bumi dan ruang waktu.
Disamping IQ, kita juga mengenal apa yang disebut EQ (emotional quotient) yaitu kecerdasan dan kemampuan mengembangkan emosi dalam prilaku, seperti berbicara yang sopan, santun, ramah, manis dalam bertutur kata dan mampu bersosialisasi dengan banyak orang. Pengukuran kemampuan manusia berdasar IQ dan EQ hanya bertujuan pada sikap materialistis. Kita cenderung mengejar kemewahan, uang, pesta pora dan kesuksesan dalam berbagai usaha, tetapi lupa memaknai setiap hasil usaha dan perilaku. Manusia yang mengandalkan IQ dan EQ cenderung berorientasi pada materi, keinginan untuk menjadi orang terkenal dan mencari jabatan ataupun kekayan semata.
Pentingnya keseimbangan lahir dan batin untuk menyikapi dan mengetahui makna kehidupan akan menjadikan manusia mendapatkan ketenangan dalam kehidupannya sehingga dia tahu arah kehidupan mana yang akan diraihnya. Hal ini menurut psikolog Abraham Maslow disebut peak experience (pengalaman puncak) yaitu perasaan yang muncul karena kedekatan dengan Sang Pencipta. Kita membutuhkan emotional spiritual quotient (ESQ) sebagai bekal untuk menyatukan intelegent quotient (IQ) dan emotional quotient (EQ). Modal kemam-puan spiritual (ESQ) bisa memberikan perasaan hidup yang komplet (wholeness). Pentingnya keseimbangan lahir dan batin untuk menyikapi dan mengetahui makna kehidupan menjadikan manusia mendapatkan ketenangan dalam kehidupannya sehingga dia tahu arah kehidupan mana yang akan diraihnya.
Modal emotional spiritual quetiont (ESQ) bisa memberikan perasaan hidup yang komplet (wholeness), hal ini dikarenakan di dalam ESQ terdiri dari 2 (dua) unsur penting yaitu : aspek nilai dan aspek makna. ESQ adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai yang menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas. ESQ juga memperlihatkan kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan hidup atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan lainnya. Kecerdasan ini tidak hanya untuk mengetahui nilai-nilai yang ada, tetapi juga untuk secara kreatif menemukan nilai baru. ESQ senantiasa berpusat pada prinsip atau kebenaran hakiki yang bersitat abadi atau universal, hal ini terdiri dari 4 (empat) tahapan :
1. Proses penjernihan emosi.
2. Membangun mental.
3. Ketangguhan pribadi.
4. Ketangguhan sosial.
Spiritual (dalam hal ini iman) akan menjadi pembimbing kehidupan seseorang agar tidak menjadi seorang egoistik atau berorientasi kepada diri sendiri. Iman merupakan lahan garapan hati dimana tempat kepuasan dan kekuatan batin yang merupakan pemberian Allah SWT yang bersifat halus, mantap dan pasti; dan hati yang mendapatkan petunjuk Ilahi akan mempertajam kemampuan seseorang dalam setiap gerak, langkah dan pikirnya.
Berangkat dari iman yang terpatri dalam hati dipadukan dengan ilmu yang bersumber dari otak dan kemantapan atau kestabilan emosi yang rasional akan memberikan kekuatan dan muatan positip bagi kehidupan manusia, persenyawaan tersebut melahirkan sikap mental yang baik:
a.       Dengan iman dalam hati akan melahirkan: ibadat yang khusuk, mental yang dinamis serta akhlakul karimah.
b.      Dengan ilmu yang bersumber dan otak akan melahirkan: kecerdasan, giat studi dan firasat.
c.       Dengan emosi (nafs) yang mantap/ stabil dan rasional akan melahirkan sikap mental yang tenang, tidak grusa-grusu, tidak mudah goyah dan tidak gampang dipengaruhi.
Sebagai kekuatan berpikir di mana kalau iman telah menyirami hati kita, ia akan memberikan sorot sinar yang lebih jelas terhadap otak sebagai tempat ilmu, sebagai kekuatan fisik membangkitkan sikap mental optimis dan dmamis dan sebagai kekuatan ruh akan menumbuhkan perasaan keyakinan yang kuat, kokoh dan teguh pada pendirian yang tidak tergoyahkan. Oleh karena itu, disamping pengembangan IQ dan EQ pada diri seseorang, pengembangan ESQ adalah bagian utama dan mutlak bagi tumbuhnya masyarakat makmur dan sejahtera, serta aman dan damai (masyarakat marhamah dan berakhlakul karimah).
Setelah penjernihan emosi pada tahapan kedua ESQ adalah tahap pembangunan mental atau mental building.  Ada enam prinsip yang perlu kita pegang untuk membangun mental cerdas yang kuat dan tidak mudah goyah. Enam prinsip ini didasarkan pada enam rukun iman. Prinsip-prinsip ini antara lain: star principle, angel principle, leadership principle, learning principle, vision principle dan well organized principle. Prinsip-prinsip inilah yang nantinya akan dapat meneguhkan membangun mental kita dan menjadikan kita pribadi yang memiliki prinsip hidup yang kokoh dan mulia.

Star Principle
Star principle menyadarkan kita bahwa prinsip hidup yang paling penting bukanlah uang, anak, keluarga, jabatan, kesehatan, pasangan, pendidikan atau yang lainnya. Hal-hal tersebut sifatnya tidak abadi, bisa hilang dalam sekejap mata, dan bahkan bisa membawa kita kejurang kehancuran. Apapun yang kita kerjakan hendaknya tujuannya hanyalah mengharap ridho Allah semata tidak dicampur dengan niat  agar diperhatikan orang lain atau riya’. Perbuatan yang dikerjakan dengan niat agar diperhatikan orang lain maka tidak akan ada nilainya dihadapan Allah SWT.
Allah berfirman di dalam Al-Qur’an yang artinya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.(Q.S. 7 Al A’raaf : 96)
Betapa besar nikmat yang diberikan Allah SWT yang telah diberikan kepada kita, sudah seharusnya kita bersyukur dengan nikmat apapun yang telah diberikan oleh Allah SWT. Tetapi sebagian dari kita mungkin masih ada yang kurang bersyukur dengan nikmat yang telah diberikan Allah, misalnya pada saat kita mendapatkan musibah, kita tidak mau bersabar dan ikhlas menerimanya atau berprasangka tidak baik kepada Allah SWT tetapi jika pada waktu mendapatkan rizki yang lebih kita lupa dengan yang memberinya, tidak sedikitpun dari rizki yang kita peroleh kita sisihkan sebagian untuk orang-orang yang lebih membutuhkan diantara kita. Kita selalu merasa kurang dan kurang.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih”.(QS.Saba’: 34).
Kehidupan dunia memang dihiasi dengan penuh gemerlap dan nurani manusia yang serakah akan selalu ingin memiliki apa yang belum ia miliki. Padahal jika kita dapat berfikir dan merenung sejenak, harta benda yang kita miliki tidak akan memberikan manfaat sedikitpun di akhirat nanti kecuali yang telah kita nafkahkan sebagian di jalan Allah SWT. Star Principle adalah bagaimana mengorientasikan semua perbuatan kita hanya untuk Allah SWT tanpa dicampur dengan riya’.
Jadi prinsip ini adalah salah satu cara untuk menyeimbangkan kehidupan kita antara dunia dan akhirat. Setelah belajar Star Principle hendaknya dapat kita implementasikan dalam kehidupan dengan cara mengutamakan perintah Allah SWT disamping kita melaksanakan kewajiban kita sebagai makhluk sosial yang hidup dengan bersama-sama orang lain dan kita tidak bisa hidup tanpa orang lain.

Angel Principle
Prinsip kedua adalah angel principle. Secara bahasa dapat diartikan sebagai prinsip malaikat yang mengajarkan kita untuk melakukan suatu perbuatan hendaknya tidak mengharapkan balas jasa atau pamrih orang lain. Perbuatan yang didasarkan mengharapkan balasan atau pujian orang lain membuat hati tidak tenang bahkan mungkin akan menyebabkan sakit hati karena apa yang kita harapkan dari orang lain tersebut tidak terwujud. Maka sia-sia lah apa yang telah kita kerjakan karena niat kita bukan karena Allah SWT melainkan mengharapkan balasan dari orang lain.
Berbeda jika kita melakukan suatu perbuatan yang dilandasi niat ikhlas karena Allah SWT maka hati kita akan lebih tenang dan siap dengan segala resiko yang akan kita hadapi karena kita percaya Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita. Allah tidak akan menerima suatu amalan hambaNya yang pada amalannya itu terdapat unsur riya’ dan mengharapkan balasan dari orang lain.
Allah berfirman di dalam Al-Qur’an yang artinya “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih”.(QS. Al-Insan: 76).
Maka dari itu prinsip ini mengajak kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik karena kita tahu segala perbuatan kita akan dicatat oleh malaikat Allah, dan kita mengharapkan balasan hanya dari Allah, bukan berupa penghargaan dari orang lain.
Selain Star Principle dan Angel Principle, mental buiding juga dilandasi dengan beberapa prinsip lain yaitu :
Leadership principle yaitu membahas mengenai tangga kepemimpinan yang terdiri dari: pemimpin yang dicintai, pemimpin yang dipercaya, pembimbing, pemimpin yang berkepribadian dan pemimpin yang abadi dan Nabi Muhammad adalah pemimpin yang paling baik teladannya bagi umat Islam.
Learning principle yang berarti belajar untuk menjadi manusia pembelajar yang berpedoman pada Al Qur’an dan Sunnah.
Vision principle membahas bahwa kita sebagai muslim mempunyai visi hidup yang jelas dan jauh ke depan (dunia akhirat).
Well organized principle, yaitu bersinergi dan maksimal pada segala peran, siap dan ikhlas menghadapi segala tantangan dan resiko. Prinsip-prinsip itulah yang dilakukan agar kita dapat membangun mental yang tangguh sehingga memiliki prinsip hidup yang kokoh dan mulia.

Kesimpulan
Ketika seseorang dengan kemampuan EQ dan IQ-nya berhasil mendaki kesuksesan, acapkali ia disergap oleh perasaan ‘kosong’ dan hampa dalam celah batin kehidupannya. Setelah prestasi puncak telah dipijak, ketika semua pemuasan kebendaan telah diraih, setelah uang hasil jerih usaha berada dalam genggaman: ia tak lagi tahu ke mana harus melangkah; untuk tujuan apa semua prestasi itu diraihnya; hingga hampir-hampir ia diperbudak uang serta waktu tanpa tahu dan mengerti di mana ia harus berpijak.
Di posisi inilah ESQ tampil menjawab permasalahan tersebut. ESQ sebagai sebuah metode dan konsep yang jelas dan pasti adalah jawaban dari kekosongan batin sang jiwa. Ia adalah konsep universal yang mampu mengantarkan seseorang pada 'predikat memuaskan’ bagi dirinya sendiri juga bagi sesamanya. ESQ pula yang dapat menghambat segala hal yang kontraproduktif terhadap kemajuan umat manusia. Mengapa bukan SQ seorang diri menjawab permasalahan tersebut? Karena kita akan kembali lagi pada konsep pemisahan dunia dan akhirat tadi, pemikiran ‘dunia saja’ atau ‘akhirat saja’ yang berdiri sendiri-sendiri yang seharusnya kita hindari, karena keduanya seharusnya mampu secara proporsional bersinergi, menghasilkan kekuatan jiwa raga yang penuh keseimbangan.
Ada enam prinsip yang perlu kita pegang untuk membangun mental cerdas yang kuat dan tidak mudah goyah. Enam prinsip ini didasarkan pada enam rukun iman. Prinsip-prinsip ini antara lain:
·        Star principle: berorientasi hanya kepada Allah SWT,
·        Angel principle: berprinsip Malaikat yang selalu bekerja tanpa pamrih dan tidak mengharapkan balasan dari orang lain kecuali Ridho Allah SWT,
·        Leadership principle: mencontoh Nabi  Muhammad dalam hal kepemimpinan,
·        Learning principle: berusaha menjadi manusia pembelajar menurut Al-Qur’an dan Sunnah.
·        Vision principle: mempunyai visi yang jauh ke depan (dunia dan akhirat),
·        Well organized principle: prinsip siap menghadapi apapun resiko sebagai akibat dari perbuatan kita.
Wallahua’lam bishawaf
DAFTAR PUSTAKA

Moeljono Notosoedirjo, Latipun. 2005. Kesehatan Mental Konsep dan
Penerapan. Malang: UMM Press.
Agustian, Ary Ginanjar. 2001. Rahasia sukses membangun kecerdasan emosi dan spiritual ESQ: Emotional Spiritual Quotient Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam. Jakarta: Arga Wijaya Persada. Tersedia http://santrieropa.multiply.com. (20 Maret 2010).
Agustian, Ary Ginanjar. 2003. Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ POWER: Sebuah Inner Journey Melalui Al-Ihsan. Jakarta: Arga. Tersedia http://santrieropa.multiply.com. (20 Maret 2010).
......, ....... Mengenal Makna Hidup Melalui ESQ.. Artikel Cakrawala TNI AL. Tersedia: http://www.tnial.mil.id/Majalah/tabid/123/Default.aspx
(20 Maret 2010).

TEGALSARI - PONOROGO

SELAMAT DATANG DI BLOG tholearisbudianto.blogspot.com
Smart PageRank button
Smart PageRank button

Selamat Datang

Ahlan wa Sahlan bi Khudhurikum..

Footer

jam on line

Powered By Blogger
Aris Budianto. Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto saya
Hari ini adalah realita yang harus dihadapi, kemarin adalah pelajaran, dan besok adalah masa depan.

Followers